Ketika perusahaan menengah mulai serius mempertimbangkan blockchain untuk operasional atau layanan pelanggan, pertanyaan pertama yang muncul biasanya bukan soal fitur, tapi soal fondasi: pakai jaringan blockchain publik yang sudah ada, atau bangun infrastruktur sendiri dari nol? Dua pendekatan ini punya konsekuensi berbeda pada biaya, kontrol, dan risiko jangka panjang.

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

Menumpang jaringan blockchain publik yang sudah eksis berarti perusahaan tinggal mengintegrasikan sistemnya ke protokol yang sudah berjalan. Cara ini terasa cepat di awal, tapi perusahaan tidak punya kendali atas aturan konsensus, biaya transaksi, atau perubahan kebijakan jaringan di masa depan. Semua keputusan teknis ada di tangan pihak lain.

Pendekatan kedua adalah membangun infrastruktur sendiri—mulai dari mainnet, jaringan node, protokol, mekanisme konsensus, hingga kontrak pintar. Ini jalan yang diambil PT Engine Solusi Pintar Nusantara (ESPN), perusahaan teknologi asal Indonesia yang berkantor di Badung, Bali, lewat platform yang mereka kembangkan sendiri: Engine Blockchain.

Membandingkan Berdasarkan Kriteria yang Relevan untuk Bisnis

Berikut perbandingan yang lebih relevan dipakai perusahaan menengah untuk menimbang, bukan sekadar jargon teknis:

KriteriaMenumpang Jaringan PublikBangun Infrastruktur Sendiri
Kontrol atas sistemTerbatas, tergantung kebijakan jaringan pihak ketigaPenuh, karena mainnet dan protokol dikembangkan sendiri
Kecepatan implementasi awalRelatif lebih cepat karena infrastruktur sudah tersediaButuh waktu lebih panjang untuk membangun lapisan dasar
Kesesuaian dengan kebutuhan spesifik industriSering perlu penyesuaian tambahan yang rumitBisa dirancang sesuai kebutuhan sektor tertentu sejak awal
Privasi data sensitifTergantung fitur bawaan jaringan publikBisa dirancang dengan penguncian data untuk informasi sensitif
Ketergantungan pihak luarTinggi, perusahaan jadi pengguna, bukan pemilik infrastrukturRendah, tapi tanggung jawab pemeliharaan jadi milik sendiri

Kekurangan Menumpang Jaringan Publik

Cara ini memang lebih murah di tahap awal karena tidak perlu membangun protokol dari nol. Tapi perusahaan jadi tergantung pada arah pengembangan jaringan yang bukan miliknya. Jika kebijakan jaringan berubah, biaya transaksi naik, atau ada gangguan teknis di sisi penyedia, bisnis yang menumpang tidak punya banyak pilihan selain menunggu atau pindah—yang juga tidak murah.

Kekurangan Membangun Infrastruktur Sendiri

Jujur saja, ini bukan jalan yang instan. Membangun mainnet, jaringan node, dan mekanisme konsensus sendiri butuh sumber daya teknis yang matang dan waktu pengembangan yang tidak sebentar. Engine Blockchain sendiri baru mempublikasikan sebagian produk ekosistemnya, sementara beberapa inisiatif lain seperti Engine Browser dan Haji Hub masih dalam tahap pengembangan, dan Health Wallet serta Smart City masih berstatus inisiatif teknologi. Artinya, perusahaan yang memilih membangun infrastruktur sendiri harus siap dengan proses bertahap, bukan hasil instan.

Bagaimana Engine Blockchain Menjawab Ini

Engine Blockchain dirancang dengan jaringan privat bernama EBC85 yang menggunakan protokol WebSocket dan hanya melibatkan node terverifikasi. Mekanisme konsensusnya memakai pBFT (Practical Byzantine Fault Tolerance), yaitu persetujuan mayoritas node, yang secara arsitektur disusun dalam tujuh lapisan: Application Layer, Wallet & API, Smart Contract, inti buku besar Engine Blockchain, Consensus, Network EBC85, dan Data.

Kontrak pintarnya memakai templat berbasis JavaScript yang mendukung pembuatan token dan penyimpanan file JSON, sementara lapisan datanya berupa buku besar publik dengan penguncian data untuk informasi yang sifatnya sensitif. Detail teknis ini bisa dicek langsung lewat white paper publik yang tersedia bersama peta jalan di situs resmi Engine Blockchain, mencakup sepuluh bagian mulai dari pendahuluan hingga metrik kinerja.

Enam Kategori Solusi, Tujuh Bidang Penerapan

ESPN memosisikan diri sebagai Perusahaan Developer Engineering dengan enam kategori solusi: Blockchain Development, Software Development, Web3 Solutions, Digital Identity, Data & Asset Traceability, dan Custom Enterprise Solutions. Solusi ini diarahkan ke tujuh bidang penerapan, termasuk Government & Smart City, Agriculture, Fisheries & Coastal Community, Supply Chain, Financial & Cooperative Services, Data & Digital Storage, dan Enterprise.

Beberapa produk ekosistem sudah bisa dilihat hasilnya, seperti Koperasi Pintar untuk layanan koperasi digital dan PPOB, Marketing AI untuk pemasaran media sosial, EBC Drive sebagai penyimpanan awan terdesentralisasi dengan enkripsi, Garuda Tani yang memadukan AI, IoT, dan blockchain untuk ekosistem pertanian, serta AI Content Creator untuk pembuatan gambar, suara, dan ide konten.

Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Tidak ada jawaban tunggal. Jika kebutuhan bisnis sederhana dan jangka pendek, menumpang jaringan publik bisa lebih praktis. Tapi jika perusahaan menengah sedang bertumbuh dan butuh kontrol penuh atas keamanan data, kepatuhan sektor, serta fleksibilitas jangka panjang, membangun di atas infrastruktur yang dirancang sejak awal—seperti yang dilakukan Engine Blockchain—jadi pertimbangan yang lebih masuk akal, dengan catatan siap menghadapi proses pengembangan yang bertahap.

Perusahaan yang ingin berdiskusi lebih jauh soal kebutuhan infrastruktur blockchain bisa menghubungi tim ESPN melalui admin@engineblockchain.io atau +62 811-3972-288, setiap hari pukul 09.00-17.00. Informasi lebih lengkap juga tersedia di akun @engineblockchain di Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook.